Skip to main content

Demokrasi Kok Konservatis?

Beberapa hari menjelang Pilkada DKI putaran pertama kemarin, saya sempat bikin gara-gara sama orang. Pasalnya, komentar saya di sebuah status facebook, membuat yang punya status naik pitam.

Jadi ceritanya, pas lagi asyik berjalan-jalan di beranda facebook pandangan saya terhenti pada status seorang teman yang menurut saya cukup provokatif. Dalam statusnya itu dia menyebut mereka yang mencoblos paslon selain jagoan dia sebagai orang yang "gobloknya nembus sampe akherat".

Merasa tergelitik, saya pun meninggalkan "jejak" di statusnya dengan menorehkan plesetan dari quotenya Descartes: "saya berpikir, maka saya golput." Tak disangka, ternyata respon ts jauh melebihi perkiraan saya. Selain menyarankan agar saya pindah warga negara, dia juga menyebut saya nggak bermanfaat dan cuma mau terlihat hebat.

Saya marah? Ohh nggak donk. Orang bebal kayak saya mana bisa marah. Kalau ngeyel iya. Saya berujar bahwa golput juga "bagian" dari demokrasi. Saya juga bilang dia seharusnya nggak perlu sensi, sebab itu cuma ibarat dia bilang suka sate trus saya dateng ngomong kalau saya suka vegetarian. Dia makin sarkas dan berapi-api, bahkan setelah saya minta maaf baik-baik.

Saya jadi berpikir, kalau sama orang yang "golput" saja dia segalak itu apalagi sama orang yang beda pilihan? Dan gilanya kalau saya amati, tiap paslon juga memiliki simpatisan bermental "senggol bacok" model begono.

Sebenarnya yang dicari para jurkam dadakan itu apa sih sampai sedemikian "konservatis"? Kalau konservatis dalam beragama menurut saya masih wajar, karena agama memang sarat dengan teks-teks yang dogmatis. Lha kalau pilkada itukan salah satu manifestasi demokrasi. Masa berdemokrasi kok konservatis? Kan aneh..

Dan hari ini, Pilkada DKI sudah berakhir. Hasilnya juga sudah keluar. Kabar buruknya, paslon yang dijagokan teman saya tadi ternyata kalah suara. Hanya berharap, semoga kekalahan jagoan dia di pilkada kali ini membuatnya berbesar hati, menjadi legowo, dan yang penting menjadi seorang simpatisan yang lebih dewasa.

Pengin sihh saya hubungi dia. Yaa saya hibur-hibur pake cerita saru kali aja dia jadi lebih hepi. Tapi sebagai warga negara yang baik saya mencoba menahan diri. Sebab jika niat baik saya nanti disalah artikan gimana coba? Selain itu agak ribet juga, soalnya akun fesbuk saya sudah DIBLOKIR.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…