Skip to main content

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan demi tempaan didapatkan oleh Geeta dan Babita. Jam 5 pagi mereka harus bangun untuk lari, senam dan renang di sungai. Kain sari yang membuat mereka kesulitan beraktifitas diganti dengan celana pendek. Rambut panjang mereka pun dipangkas hingga lingkungan mengejek mereka sebagai "anak laki-laki". Meski awalnya keinginan Mahavir ditentang oleh istri, saudaranya dan dicibir orang sekampung, tetapi semuanya "terbayar" ketika Geeta mulai berhasil meraih kemenangan demi kemenangan. Puncaknya adalah ketika dia berhasil menyabet emas dalam kompetisi Olimpiade Persemakmuran tahun 2010.

***

Tentu tidak semua orang akan mengamini pesan dalam film ini. Tindakan Mahavir yang "mengorbankan" anaknya demi memenuhi ambisi pribadinya, sudah pasti akan menuai kritik dari mereka yang berpegang pada prinsip tiap anak berhak menjadi dirinya sendiri. Namun bukan berarti kekuatan tekad Mahavir tak memberikan angin segar. Tekadnya itulah yang mampu merubah pola pikir masyarakat kampung Balali saat itu yang kolot dan cenderung patriarkhis. Di kampung itu, anak laki-laki diberi makanan lebih bergizi dan pendidikan lebih baik. Anak perempuan hanya diajarkan mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah kesuksesan Phogat bersaudara pola pandang mereka berubah. Anak perempuan mulai mendapat "kemerdekaan"-nya.

Bagi saya pribadi, Dangal bukan saja film yang menghibur. Dangal adalah sebuah penawaran pemikiran seorang Amir Khan bagi India dan dunia. Seperti dalam film-film sebelumnya yang sarat dengan kritik sosial, kali ini yang Amir Khan "hajar" adalah pola pikir patriatkhis -menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua- yang masih mengendap di kepala kita.

Anda yang gemar menyimak film garapan Amir Khan tentu tidak pernah lupa bagaimana film Taare Zameen Par (2007) dan 3 idiots (2009) sukses menampar wajah dunia pendidikan lewat adegan penuh satir yang memukau. Atau film PK (2014) yang mengkonter secara lugas fanatisme beragama.

Dangal tidak jauh beda. Kekuatan karakter, jalan cerita yang runtut serta emosi yang diaduk-aduk tetap menjadi daya tarik film ini. Yang menarik lagi, film ini sangat sonder dari stereotip film Bollywood yang cenderung menjadikan wanita sexy, tari-tarian dan lokasi syuting di Amerika atau Eropa sebagai komoditi jualannya. Di film Dangal, semua itu dibabat habis. Tokoh protagonis dalam film ini adalah dua wanita berotot yang hobi bergumul dengan tanah dan keringat, tarian hampir tidak ada, lokasi syutingnya pun hanya di negara bagian yang miskin di India Utara.

Begitu banyaknya point-point anti mainstream dalam film ini menjadikan Dangal disebut-sebut sebagai babak baru perfilman Bollywood. Maka tak mengherankan jika Dangal dinobatkan sebagai film India terlaris sepanjang masa.

So, tertarik buat nonton??

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…