Skip to main content

Masalah Membawa Hikmah

Saya punya temen yang kalau lagi ada masalah pasti selalu ngajakin main. Entah itu ke pantai, ke hutan, atau pegunungan. Di sana nggak ngapa-ngapain, cuma berjalan-jalan menikmati pemandangan alam. Tapi satu "ritual" yang selalu dia lakukan dalam aktifitas jalan-jalannya itu adalah: berteriak.

Ya, dia berteriak di alam bebas, sekeras-kerasnya, dan berkali-kali. Awalnya saya kaget karena mengira dia kesurupan. Tapi setelah dia menjelaskan barulah saya paham. Menurut dia, berteriak memunculkan ketenangan batin. Serasa lebih plong dan lega. Perkara nanti setelah pulang dia akan dipusingkan lagi oleh masalahnya, itu urusan belakangan. Yang pasti berteriak menjadi obat yang mujarab untuk mengurangi beban pikiran.

Saya yakin tiap orang pasti punya "ritual" seperti teman saya tadi. Maksudnya, "ritual" untuk mengurangi beban pikiran. Beberapa mencoba mengalihkan masalahnya dengan berkumpul bersama teman, ada juga yang mengisinya dengan ikut acara keagamaan. Bahkan saya punya teman unik yang kalau ada masalah dia memilih nongkrong di depan UGD Rumah Sakit. Kata dia melihat lalu lalang orang yang sakit, berjuang antara hidup dan mati membuatnya sadar bahwa masalahnya tidaklah seberapa. Dan itu membuat dia lebih bersyukur dengan hidupnya.

Yang pasti, tiap orang punya masalah. Kalau "wong cilik" macam saya masalahnya ngga jauh-jauh dari urusan duit, ya banyak utang, ya banyak cicilan, ups malah curhat. Sedangkan kalau pejabat, meski harta melimpah ruah, bukan berarti mereka juga imun dari masalah. Bahkan tak jarang masalah yang mereka hadapi lebih besar dari yang kita bayangkan. Intinya, tiap orang memang memiliki "medan perang"-nya sendiri-sendiri.

Dan kita pasti sepakat, bahwa masalah bukanlah satu hal yang menyenangkan. Sebaliknya, dia amatlah menyebalkan. Masalah membuat kita nggak enak makan, ngga nyaman tidur. Pokoknya, efeknya nggak jauh-jauh beda dengan sindrom cinta pertama (ahayy).

Tapi pernahkah kita meyakini dalam hati, bahwa masalah sebetulnya memiliki manfaat bagi diri kita sendiri?

Sebuah artikel yang pernah saya baca di internet mencoba mengambil hikmah mengenai perkara "masalah" ini. Artikel itu menganalogikannya dengan aktifitas perburuan ikan salmon di tengah lautan. Jadi konon ikan salmon akan lebih enak dinikmati jika masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Masalah muncul ketika ikan salmon yang tergolong hewan rentan, banyak yang kemudian mati setelah ditaruh di kolam buatan. Nelayan harus memutar otak bagaimana agar ikan salmon itu tetap hidup hingga sampai di daratan.

Ternyata solusinya mudah, mereka cukup menaruh anakan hiu di kolam yang penuh dengan ikan salmon tadi. Anakan hiu akan berusaha mengejar ikan salmon untuk dimangsa, dan ikan salmon secara default akan berusaha lolos dari kejarannya. Siapa sangka, karena ikan salmon terus bergerak aktif menghindar dari kejaran hiu, justru itulah yang membuatnya terus hidup.

Dalam kehidupan nyata, kita semua adalah ikan salmon dengan masalah sebagai ikan hiunya. Masalah lah yang membuat kita terus bergerak dinamis dan karenanya membuat kita terus "hidup". Kita tidak pernah tahu, jika Tuhan tidak memberikan masalah dan tekanan hidup, barangkali kita akan menjadi manusia yang terlena, terpuruk lemah dan akhirnya "mati". Persis seperti ikan salmon tadi.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Utusan Tuhan di Sekitar Kita

Meski dia hanyalah tanaman yang tumbuh dari sela-sela lantai keramik, tapi dia adalah "ayat" Tuhan. Melaluinya Tuhan seolah berkata "Apalagi yang tidak Aku berikan pada Indonesia? Tidakkah kesuburan alam negerimu belum cukup menjadi alasan untuk bersikap adil?"

Anehnya meski kita adalah bangsa yang kaya, tapi kita adalah bangsa yang "miskin". Entah berapa banyak orang yang sengsara dan terdzolimi hidupnya di negeri nan kaya raya ini.

Kita kaya budaya tapi malah silau dengan budaya lain, alam kita melimpah namun kita biarkan dia dieksploitasi oleh bangsa lain. Kesuburan tanah kita bak surga hingga Koes Plus bersenandung "jikapun tongkat kayu dan batu dilempar dia akan tumbuh jadi tanaman.."

Namun faktanya kita lebih suka menumbuhkan gedung pencakar langit, menumbuhkan mall-mall, menumbuhkan keserakahan, semangat perpecahan dan sentimen antar golongan.

Tuhan sering berbicara pada manusia Indonesia melalui para utusannya, melalui gunung, melalui an…