Skip to main content

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasilannya, berapa kira-kira kecepatan kendaraan yang meluncur ke arah kita, berapa kekuatan tarikan gas yang harus diberikan biar bisa nyampe kesana.

Seluruh pertimbangan itu dilakukan dalam waktu cepat. Jangan sampai keputusan sudah dibuat, tapi ditengah-tengah justru muncul keraguan dan rem mendadak. Mending kalau nyalipnya sendirian, lha kalau keroyokan? Bisa-bisa malah terjadi tabrakan beruntun. Tabrakan beruntun adalah simbol salah perhitungan yang dilakukan berjamaah.

Mungkin ada yang ngeyel, lho saya kan orang yang terampil. Saya sudah sangat terlatih menghadapi segala situasi.

Betul. Ada kondisi-kondisi tertentu dimana orang yang sudah mahir berkendara tak lagi terpaku pada variabel yang saya sebutkan tadi. Tapi ingat, berkendara di jalan raya bukanlah tentang diri kita sendiri. Jalan raya adalah satu tempat bercampur aduknya manusia dengan level keterampilan yang bermacam-macam.

Ada yang levelnya sudah advance, sangat terampil. Ada yang sedang-sedang saja. Ada yang baru belajaran dan masih 'nanak-nunuk'. Naaah, yang terakhir ini yang sering bikin runyam. Semahir apapun seseorang, teori tentang kemahiran itu bisa saja runtuh seketika tatkala berpapasan dengan emak-emak yang pas belok kanan nyalain lampu sen ke kiri.

Hidup pun, barangkali sama seperti analogi berkendara yang saya contohkan tadi. Hidup penuh dengan dialektika 'nge-rem' dan 'nge-gas' yang berulang-ulang. Semuanya harus dipadukan dengan "cantik" agar didapatkan sikap hidup yang harmoni. Kalau emang belum bisa memahami akar masalah secara menyeluruh, yaa mending ditahan dulu jangan buru-buru tancap gas. Kalau pemetaan sudah didapat, variabel makro-mikro sudah terbaca, resiko sedikit-banyak sudah terukur, baruuu..hajar!

Trus bagaimana mengukurnya? Yang sanggup mengukurnya adalah diri kita sendiri. Tidak ada ukuran pasti yang bisa diterapkan dan berlaku untuk semua orang. Itupun tidak ada jaminan mutlak apa yang sudah diukur pasti akurat secara hasil. Tetap ada 'emak-emak belok kanan dengan lampu sen ke kiri' yang bisa mengacaukan semuanya. Naasnya mereka ini justru adalah kaum yang paling agresif mempermasalahkan balik ketika dipermasalahkan.

Kalau sudah gitu bagaimana? Yaa tidak ada pilihan lain selain dinikmati. Sebab seperti halnya berkendara, hidup pun adalah sebuah seni.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…