Skip to main content

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seolah semakin melengkapi pengingkaran itu.

Tak perlulah saya urai lengkap, betapa Trump sudah menorehkan sekian banyak "dosa" selama masa kampanyenya. Mulai dari program kontroversialnya yang akan melarang muslim masuk amerika, pemberlakuan tanda khusus pada kartu penduduk warga muslim, menghina fisik dan berkata kasar kepada rival sesama capres, menyebut rakyat Mexico sebagai pemerkosa dan pengedar narkoba, hingga skandal pelecehan seksual yang dilaporkan oleh sekian banyak wanita.

Harus diakui, meski perolehan suara Trump-Hillary terpaut sangat tipis, namun Trump adalah presiden yang mewakili suara mayoritas penduduk negeri Paman Sam. Dengan kata lain, Trump menang karena memang rakyat amerika "merestui" sosok itu. Tidak terlalu mewah juga jika saya katakan presiden terpilih adalah refleksi keinginan rakyat Amerika yang menghendaki negerinya dipimpin oleh seorang kepala negara bermental "cowboy".

So, mari kita lihat. Apakah Amerika di bawah kendali seorang Trump akan tampil semakin garang seperti garangnya dia ketika masa kampanye kemarin, ataukah seorang Trump akan cenderung tampil elegan dan kalem, meski untuk point terakhir ini saya berani jamin itu hampir tidak mungkin terjadi.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Utusan Tuhan di Sekitar Kita

Meski dia hanyalah tanaman yang tumbuh dari sela-sela lantai keramik, tapi dia adalah "ayat" Tuhan. Melaluinya Tuhan seolah berkata "Apalagi yang tidak Aku berikan pada Indonesia? Tidakkah kesuburan alam negerimu belum cukup menjadi alasan untuk bersikap adil?"

Anehnya meski kita adalah bangsa yang kaya, tapi kita adalah bangsa yang "miskin". Entah berapa banyak orang yang sengsara dan terdzolimi hidupnya di negeri nan kaya raya ini.

Kita kaya budaya tapi malah silau dengan budaya lain, alam kita melimpah namun kita biarkan dia dieksploitasi oleh bangsa lain. Kesuburan tanah kita bak surga hingga Koes Plus bersenandung "jikapun tongkat kayu dan batu dilempar dia akan tumbuh jadi tanaman.."

Namun faktanya kita lebih suka menumbuhkan gedung pencakar langit, menumbuhkan mall-mall, menumbuhkan keserakahan, semangat perpecahan dan sentimen antar golongan.

Tuhan sering berbicara pada manusia Indonesia melalui para utusannya, melalui gunung, melalui an…