Skip to main content

Relatifitas Nilai

Langit tidak merasa perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi. Ke-"tinggi"-an langit lahir dari pengakuan para penduduk bumi, dan bukan berasal dari pengumuman yang dia publikasikan sendiri. Langit dianggap tinggi karena penduduk bumi terpaut oleh satuan jarak vertikal dengannya. Ditambah lagi keterkungkungan gravitatif memberi sebuah pelajaran besar bahwa tidak semua objek yang terlihat bisa diraih dan dipahami secara sederhana.

Dari langit kita bisa belajar indahnya alam semesta. Kita bisa melihatnya tampak indah membiru pada satu waktu dan tampak menyeramkan pada waktu yang lain. Dari langit pula kita bisa menyaksikan turunnya air yang kita sebut hujan, sementara kita semua tahu air adalah sumber kehidupan.

Berangkat dari akumulasi rasa penasaran itu kesejarahan manusia lantas merubah sesuatu yang hanya sekadar "satuan jarak" tadi menjadi sebuah "nilai". Ketika kita memperbandingkan dua hal menggunakan ungkapan "bagaikan langit dan bumi", kita cenderung menjadikan langit sebagai representasi superiornya dan bumi pada wilayah inferior.

Simpelnya, langit selalu dianggap lebih eksklusif dan lebih mulia. Imajinasi manusia bahkan menempatkan dewa-dewa dengan kahyangannya dan tuhan dengan singgasananya seolah berada di langit, dengan penggambaran nun jauh di atas sana.

Padahal tinggi-rendah, atas-bawah, sebenarnya hanya satu nilai yang relatif, bukan absolut. Relatifitas nilai terjadi ketika sebuah entitas terbatasi oleh ruang. Ditambah lagi, keterbatasan indera yang dimiliki manusia menjadikannya semakin tak mampu mendefinisikan ruang sesuai dengan keutuhannya.

Mata contohnya. Mata manusia hanya mampu menangkap objek yang berada di depannya dalam satu garis lurus. Ketika kita melihat batu besar di sungai, mata kita hanya mampu melihat tampilan batu besar itu hanya dari satu perspektif yang tepat di depan mata kita. Pandangan kita tidak mampu berbelok untuk mengetahui apa yang ada di balik batu itu.

Kesempitan pola pandang itulah yang menjadikan kita menyematkan kata tinggi dan rendah untuk menyebut langit dan bumi. Ketika kita tarik diri kita keluar dari orbit bumi, barulah kekeliruan pandangan itu akan kita sadari. Kita akan menemukan bahwa langit sesungguhnya "tidak ada". Warna biru yang biasa kita lihat sejatinya hanyalah batas pandang manusia.

Begitupun bintang, bulan dan objek lain yang setiap malam mencuri rasa penasaran manusia dengan kerlipnya, mereka hanyalah kumpulan objek yg berada dalam satu ruang gelap hampa yang entah dimana ujungnya. Ekspedisi alam semesta bahkan mencatat, bahwa tidak semua yang bercahaya benar-benar bercahaya. Dan tidak semua yang tampak indah, memang memiliki "fakta keindahan" sesuai dengan bayangan kita.

Orang yang masih menempatkan rumus tinggi-rendah dalam kamus hidup mereka. Merasa perlu mendeklarasikan ke-tinggi-annya, dan menganggap rendah yang lainnya, berarti masih terkungkung dalam sempitnya ruang dan pola pandang. Dia adalah pribadi yang belum mampu menemukan universalitas dirinya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…