Skip to main content

Ketika Berita Baik Menjadi Berita "Buruk"

Jaman belajar jurnalistik dulu, ada satu lontaran menggelitik yang diberikan seorang narasumber. Dia bertanya, "Jika kalian adalah peliput berita, dan kalian mendapat informasi bahwa beberapa jam ke depan akan terjadi pembantaian di sebuah desa, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan tetap bersikukuh dalam peran sebagai peliput berita (menunggu pembantaian terjadi agar mendapatkan liputan eksklusif)? Ataukah kalian akan menggunakan peran kemanusiaan dan memperingatkan penduduk desa itu (agar terhindar dari pembantaian)?"

Pertanyaan di atas simpel, tapi cukup mengena. Kita disorong ke dalam ranah pemahaman bahwa prinsip jurnalistik acapkali berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di lapangan, seorang jurnalis sering dihadapkan pada pilihan sulit seperti itu. Apakah dia akan tetap menjunjung nilai kemanusiaan ataukah bersikukuh pada profesionalitas meski berseberangan dengan nilai kemanusiaan.

Saya pernah beberapa kali melihat tayangan bagaimana seorang peliput berita begitu agresif mewawancarai seorang ibu yang histeris meratapi anaknya yang tewas menjadi korban tawuran. Dalam tayangan itu, si wartawan terus memberondong ibu tadi dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia seolah abai, bahwa si ibu tadi masih berada dalam keadaan shock serta belum kondusif untuk diwawancara.

Dalam logika kemanusiaan saya, semestinya si wartawan menunggu saat yang tepat untuk melakukan wawancara. Memberikan minum untuk sang ibu misal. Menunggu sejenak agar lebih tenang, sehingga bisa memberikan jawaban dengan runtut dan jelas. Tapi siapa yang peduli? Liputan seorang ibu yang histeris adalah tayangan yang tidak biasa. Dan itu berpotensi mencuri mata seluruh rakyat Indonesia.

Bad news is good news. Berita buruk adalah berita baik. Semakin buruk sebuah berita, maka akan semakin tinggi harga jualnya. Ditemukannya moda transportasi berbasis aplikasi online itu berita baik, tapi itu tidak lebih "baik" dari berita perang batu antara karyawan gojek dan supir taxi. Pesta pernikahan selebritis itu berita baik, tapi itu tidak lebih baik dari berita perceraian yang diwarnai saling tuntut dan saling caci di sosial media.

Televisi berlomba-lomba menyuguhkan tayangan yang mampu menyita perhatian penontonnya. Berita yang mengexpose skandal, aib, perseteruan, kekerasan, korban berdarah-darah, hanyalah secuil contoh tayangan yang sudah kita anggap biasa. Media cetak dan online mengikuti jejaknya dengan membuat headline yang mampu mencuri rasa penasaran pembaca, terlepas apakah berita itu sudah terbukti atau belum kebenarannya.

Orientasi pemberitaan bukan lagi mengerucut pada tujuan untuk memberikan informasi yang valid dan berimbang, namun diarahkan pada pencapaian target profit dan ketertarikan para pengiklan. Belum lagi makin maraknya politisi yang ikut serta dalam bisnis media menjadikan fungsi media berubah menjadi kendaraan politik yang sarat kepentingan.

Media mulai beralih fungsi. Mereka bukan lagi penyampai informasi, namun telah berubah menjadi pembuat informasi. Media dengan mudahnya mampu menelurkan isu-isu sosial dan "memaksa" kita menggunakan frame berpikir seperti yang mereka punya.

Anehnya, kita seolah tidak ada masalah dengan itu. Bahkan merayakannya. Kita begitu berminat ketika melihat berita buruk namun biasa saja ketika menyimak berita baik. Berbekal informasi seadanya, kita lalu merasa pantas menjadi hakim yang berhak menghukum benar-salah atas perseteruan yang dialami orang lain.

Perlahan, tapi pasti, pola pikir kita sedang dirubah untuk semakin menjauh dari fitrahnya. Hingga esok ketika kita benar-benar mampu membuka "mata", barulah kita tersadar. Kita hidup dalam peradaban yang tidak lagi memanusiakan manusia, tapi membinatangkan manusia.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…