Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Relatifitas Nilai

Langit tidak merasa perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi. Ke-"tinggi"-an langit lahir dari pengakuan para penduduk bumi, dan bukan berasal dari pengumuman yang dia publikasikan sendiri. Langit dianggap tinggi karena penduduk bumi terpaut oleh satuan jarak vertikal dengannya. Ditambah lagi keterkungkungan gravitatif memberi sebuah pelajaran besar bahwa tidak semua objek yang terlihat bisa diraih dan dipahami secara sederhana.

Dari langit kita bisa belajar indahnya alam semesta. Kita bisa melihatnya tampak indah membiru pada satu waktu dan tampak menyeramkan pada waktu yang lain. Dari langit pula kita bisa menyaksikan turunnya air yang kita sebut hujan, sementara kita semua tahu air adalah sumber kehidupan.

Berangkat dari akumulasi rasa penasaran itu kesejarahan manusia lantas merubah sesuatu yang hanya sekadar "satuan jarak" tadi menjadi sebuah "nilai". Ketika kita memperbandingkan dua hal menggunakan ungkapan "bagaikan langit dan bumi", kita c…

Utusan Tuhan di Sekitar Kita

Meski dia hanyalah tanaman yang tumbuh dari sela-sela lantai keramik, tapi dia adalah "ayat" Tuhan. Melaluinya Tuhan seolah berkata "Apalagi yang tidak Aku berikan pada Indonesia? Tidakkah kesuburan alam negerimu belum cukup menjadi alasan untuk bersikap adil?"

Anehnya meski kita adalah bangsa yang kaya, tapi kita adalah bangsa yang "miskin". Entah berapa banyak orang yang sengsara dan terdzolimi hidupnya di negeri nan kaya raya ini.

Kita kaya budaya tapi malah silau dengan budaya lain, alam kita melimpah namun kita biarkan dia dieksploitasi oleh bangsa lain. Kesuburan tanah kita bak surga hingga Koes Plus bersenandung "jikapun tongkat kayu dan batu dilempar dia akan tumbuh jadi tanaman.."

Namun faktanya kita lebih suka menumbuhkan gedung pencakar langit, menumbuhkan mall-mall, menumbuhkan keserakahan, semangat perpecahan dan sentimen antar golongan.

Tuhan sering berbicara pada manusia Indonesia melalui para utusannya, melalui gunung, melalui an…

Ketika Berita Baik Menjadi Berita "Buruk"

Jaman belajar jurnalistik dulu, ada satu lontaran menggelitik yang diberikan seorang narasumber. Dia bertanya, "Jika kalian adalah peliput berita, dan kalian mendapat informasi bahwa beberapa jam ke depan akan terjadi pembantaian di sebuah desa, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan tetap bersikukuh dalam peran sebagai peliput berita (menunggu pembantaian terjadi agar mendapatkan liputan eksklusif)? Ataukah kalian akan menggunakan peran kemanusiaan dan memperingatkan penduduk desa itu (agar terhindar dari pembantaian)?"

Pertanyaan di atas simpel, tapi cukup mengena. Kita disorong ke dalam ranah pemahaman bahwa prinsip jurnalistik acapkali berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di lapangan, seorang jurnalis sering dihadapkan pada pilihan sulit seperti itu. Apakah dia akan tetap menjunjung nilai kemanusiaan ataukah bersikukuh pada profesionalitas meski berseberangan dengan nilai kemanusiaan.

Saya pernah beberapa kali melihat tayangan bagaimana seorang peliput…