Skip to main content

Demam Materialisme

Kita hidup dalam jaman dimana materi dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur kebahagiaan. Sehingga ketika orang tidak cukup secara materi, seolah dia tidak akan -dan tidak punya hak untuk- merasa bahagia.

Titik awal gelombang materialisme berawal dari mental yang seperti itu. Materi dipandang sebagai satu-satunya tujuan hidup. Sehingga semua hal diukur berdasarkan materi.

Seseorang akan diterima sebagai teman jika dia dirasa mampu memberikan keuntungan. Seseorang dihormati dan dihargai bukan lagi karena keluhuran sikap serta pengaruhnya terhadap kemaslahatan sosial, tapi karena penampilan parlentenya dan ketebalan sakunya.

Materi membuat manusia begitu mudah stress. Mudah merasa minder. Mudah curiga. Mudah menjilat. Mudah dipengaruhi dan diombang-ambingkan. Mereka tak lagi memiliki kedaulatan penuh terhadap dirinya sendiri.

Mereka lupa tentang kemesraan hidup, lupa akan nikmatnya ketulusan ketika menolong sesama. Lupa indahnya hubungan tanpa kepentingan. Bahkan mereka lupa cara menghargai diri mereka sendiri.

Mereka mengira kebahagiaan ada di luar diri (dengan uang, harta, dan jabatan sebagai parameternya), bukan di dalam diri (berupa ketulusan dan rasa syukur). Mereka memusuhi rasa syukur. Rasa syukur bagi mereka hanyalah penghambat kemajuan dan progresifitas hidup.

Demam materialisme ini telah menyerang hampir semua sendi kehidupan manusia. Bahkan dia telah menjalar dalam ritual hubungan manusia dengan Tuhan yang semestinya imun dari ambisi transaksional.

Hitung-hitungan point sedekah, pahala dan surga yang kita bahas siang malam hanya sebagian kecil dari keserakahan manusia yang ter-"syariah"-kan. Demi surga Tuhan "disuruh-suruh" untuk melaknat kelompok yang tidak sepaham. Demi bidadari telanjang apapun dilakukan, bahkan jika untuk mendapatkan itu saudaranya sendiri harus dibinasakan.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…