Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2016

Demam Materialisme

Kita hidup dalam jaman dimana materi dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur kebahagiaan. Sehingga ketika orang tidak cukup secara materi, seolah dia tidak akan -dan tidak punya hak untuk- merasa bahagia.

Titik awal gelombang materialisme berawal dari mental yang seperti itu. Materi dipandang sebagai satu-satunya tujuan hidup. Sehingga semua hal diukur berdasarkan materi.

Seseorang akan diterima sebagai teman jika dia dirasa mampu memberikan keuntungan. Seseorang dihormati dan dihargai bukan lagi karena keluhuran sikap serta pengaruhnya terhadap kemaslahatan sosial, tapi karena penampilan parlentenya dan ketebalan sakunya.

Materi membuat manusia begitu mudah stress. Mudah merasa minder. Mudah curiga. Mudah menjilat. Mudah dipengaruhi dan diombang-ambingkan. Mereka tak lagi memiliki kedaulatan penuh terhadap dirinya sendiri.

Mereka lupa tentang kemesraan hidup, lupa akan nikmatnya ketulusan ketika menolong sesama. Lupa indahnya hubungan tanpa kepentingan. Bahkan mereka lupa cara mengh…