Skip to main content

Sosial Media Mengajari Kita

Pernah pada suatu maghrib saya komen di status temen. Tak berapa lama yang punya status inbox "Shalat woooyy maghrib-maghrib fesbukan mulu". Saya balas dengan emoticon ketawa.

Pernah juga jam tiga dini hari saya ngelike beberapa status, tiba-tiba ada yang inbox "Baru shalat tahajud ya mas jam segini udah bangun?" Sayapun pasang emoticon ngakak.

***

Sosmed penuh dengan prasangka-prasangka. Jangankan menulis komen atau menulis status yang sedemikian panjangnya, memberikan "like" pada status temen saja bisa melahirkan prasangka yang kadang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seperti tadi contohnya. Ada yang mengesankan saya lalai shalat maghrib, ada yg "menuduh" saya baru menunaikan tahajud. Naah.. termasuk saya menilai mereka kaya gini sebetulnya juga prasangka, padahal bisa jadi tujuan mereka hanya berbasa-basi sebagai pembuka obrolan belaka.

Tapi itulah sosmed, tiap orang seolah merasa punya hak untuk menafsiri apa yang dia lihat dan apa yang dia baca. Parahnya banyak dari mereka yang gelap mata dan menganggap prasangkanya sebagai kebenaran tunggal, seolah tidak ada celah kemungkinan yang lain.

Akhirnya banyak terjadi kasus orang tersinggung ketika menyimak status atau komen temannya, intens komen di status lawan jenis lantas ditafsiri pasti ada hubungan asmara, juga prasangka-prasangka "kreatif" lainnya.

Yang pasti tiap manusia punya pembelaannya sendiri. Sehebat apapun sampeyan "memaksa" orang lain untuk mengiyakan prasangka anda, yang tau kebenarannya cuma yang bersangkutan bersama Tuhannya.

Maka memperdebatkan prasangka atas sebaris teks, selain buang-buang energi, juga merupakan kegiatan melelahkan dan menggelikan. Sosial media pada akhirnya mengajari kita, bahwa orang yang dewasa adalah orang yang mampu "berdamai" dengan prasangkanya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…