Skip to main content

Mudik: Filosofi Menuju Pulang Yang Sejati

Pulang, kerinduan terhadap kampung halaman, adalah keniscayaan yang terjadi dalam diri setiap manusia. Mudik menjelang hari raya, adalah salah satu contohnya.

Sejauh mana pun seorang manusia merantau, memisahkan diri dari keluarganya, meninggalkan kampung halamannya, akan ada satu titik dimana dia ingin kembali kesana.

Tak peduli dia bekerja di kantor mewah, dengan relasi luas dan jabatan bergengsi, tidak ada satupun yang bisa menggantikan keinginan untuk "pulang", meski disana nanti dia harus kembali pada kehidupan yang bersahaja dengan rumah yang sederhana.

Mudik sebagai "pulang jasadi" adalah pembuktian diri seorang manusia, bahwa dia punya sebuah tempat berasal. Sedangkan "pulang batiniah", adalah kemampuan seorang manusia untuk menemukan dirinya yang sejati.

Pulang batiniah menuju kemurnian diri bernama fitrah. Fitrah adalah sebuah titik nol, sebuah keadaan dimana manusia berada dalam keadaan diri yang suci, bersih, dari kotoran-kotoran yang melekat selama dia menjalani kehidupan. Konsep fitrah dalam Al-quran digambarkan secara sederhana laksana bayi yang baru lahir.

Orang modern yang kerap bersentuhan dengan teknologi, lebih mampu memahami konsep "fitrah" ini laksana factory reset pada gadget, atau install ulang pada komputer.

Ketika mereka mengeluhkan begitu seringnya terjadi error pada gadget yang mereka pakai, karena file system yang corrupt atau terkena virus, solusi terakhir yang bisa dilakukan untuk itu biasanya adalah factory reset, atau instal ulang. Lihatlah, bahkan dalam teknologi pun "kembali ke fitrah" menjadi keniscayaan. Dia adalah solusi. Meskipun kita mengakuinya secara tidak sadar.

Semoga saja, mudik, sebagai konsep "pulang" jasadi yang kita jalani hari ini, sekaligus menyadarkan kita tentang pentingnya konsep "pulang" batiniah menuju fitrah diri. Hingga akhirnya kefitrahan itu membuat kita mampu memahami "pulang" yang lebih tinggi lagi, yaitu pulang ke rumah keabadian, sebagai "pulang" yang sejati.

Inna lillahi, wa inna ilaihi roji'un..
Sesungguhnya kita semua milik Allah dan akan berpulang kepada-Nya

Wallahu a'lam..

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…