Skip to main content

Kecele Maiyah

Seorang teman menuduh saya alim karena tahu saya suka ikut Maiyahan. Saya jawab, "Alim ndhasmu! Justru karena atiku taksih rusuh makanya aku ikut itu.."

Banyak yang tidak memahami Maiyah. Maiyah dikira oleh sebagian orang layaknya pengajian yang hanya berisikan orang-orang suci. Kalau di tipi sampeyan biasa mendengar Mamah Dedeh meneriakkan kata haram melengking 8 oktaf, di Maiyah itu ndak akan terjadi. Juga jangan kecele kalau di Maiyah anda bingung mana ustadz, mana dai, mana kiai.

Maiyah percaya bahwa agama tidak lepas dari PR-PR sosial, maksudnya, agama bukan melulu urusan 'langit' yang ujungnya cuma surga dan neraka. Jika ada wanita jadi pelacur, itu bukan karena mereka ndak tau Al-quran. Tapi karena ada yang jadi "masalah" disana.

Maiyah menempatkan manusia-manusia yang marginal secara sosial-spiritual sebagai hamba Tuhan yang wajib disapa dan dicarikan jalan keluar, bukan sebagai objek tudingan serta sampel gambaran manusia penghuni neraka.

Maka jangan heran kalau yang hadir di Maiyah bisa siapa saja. Bisa aktifis sosial, korban bencana, seniman, pejabat, pengusaha, juga teman-teman lintas agama seperti para pastur dan suster. Semuanya duduk dan bernyanyi bersama, tertawa, mengudal rasa persaudaraan sebagai sesama manusia.

Sambil Maiyahan anda boleh ngrokok, boleh ngopi, juga boleh curhat mengenai hal yang ndak penting sama sekali, ngeluh males sholat misal.

Rumah Maiyah terbuka bagi siapapun dan dengan baju apapun. Terserah sampeyan mau pake udeng-udeng atau pake peci, atau blangkonan, atau bercelana robek plus rambut gimbal, anda tetap boleh ikut. Semua juga bebas urun rembug mengenai hal apapun. Kami menafsiri kebebasan bukan sebagai tujuan, namun hanya "jalan" untuk menemukan batasan-batasan.

Khusus buat sampeyan yang ngacengan, saya sarankan jangan ikut Maiyah. Karena disana ndak ada hijab yang menyekat laki-laki dan perempuan. Di Maiyah kami menggelar kepercayaan seluas cakrawala, bahwa semua yang hadir telah "meninggalkan" kelamin mereka di rumah masing-masing.

Di luar semua itu, puncak kekaguman saya pada Maiyah adalah, meski pembicaranya ngrokokan, meski rambutnya gondrong-gondrong mirip gendruwo dan preman, Maiyah terbukti mampu menghadirkan 'Islam' dalam warna yang berbeda: Islam yang membumi, merangkul semua golongan dan mendamaikan. Bukan Islam yang santun di depan, tapi di dalamnya mengajarkan benih-benih kebencian..

Note:
Maiyah, berasal dari kata ma’a, artinya bersama/beserta. Ma’iyyatullaah: kebersamaan dengan Allah. Ma’iyyah: kebersamaan.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…