Skip to main content

Kafir Itu Apa Sih?

"Kafir itu apa sih?", tanya seorang teman pada suatu hari. Dia yang notabene seorang nasrani, merasa penasaran karena sering mendengar kata itu disebut dalam forum-forum online.

Menurut ceritanya, rasa penasaran dia makin memuncak ketika ada teman muslim yang menudingnya dengan kata itu. "Makanya saya bingung definisi kafir bagi orang Islam itu apa, kok saya ikut-ikutan disebut kafir?"

Saya bilang ke dia bahwa dalam Al-Qur'an ada satu surat bernama Al-Kafirun, orang-orang kafir. Surat ini adalah respon Tuhan atas perilaku kaum Quraisy kala itu yang mengajak Nabi Muhammad untuk ikut menyembah berhala.

Ada juga beberapa ayat dalam Surat Al-Maidah yang cukup ngetrend, dimana di dalamnya terdapat kritik atas konsep trinitas.

Sepertinya orang yang menuding teman saya tadi memahami definisi kafir melalui ayat-ayat ini. Dari situ dia menyimpulkan secara simplifik bahwa kafir adalah sebutan bagi orang-orang di luar Islam.

Tetapi sayangnya pemahaman dia terlalu sempit dan kurang meluas, dia terjebak pada nafsu untuk buru-buru memberi identitas, tanpa dia sadari bahwa dalam ayat lain Tuhan pun menyebut kafir untuk manusia yang lain, terlepas dia muslim atau bukan.

Dalam Al-qur'an, Tuhan justru lebih banyak menyandingkan kata "kafir" ini dengan urusan pengingkaran daripada urusan tauhid. Tuhan menyebut kafir secara berulang-ulang untuk menyebut hamba-Nya yang tidak bersyukur.

Manusia yang tidak mampu memaknai tanda-tanda kekuasaan Allah, juga tak luput dari tudingan kafir ini. Al-Qur'an mengibaratkan manusia jenis ini laksana "punya mata tapi tak mampu melihat, punya telinga tapi tak mampu mendengar".

Bahkan dalam sebuah hadits, nabi menceritakan tentang seorang lelaki yang menjual agamanya untuk urusan duniawi. Nabi menyebutnya "ketika pagi mukmin lalu beranjak sore dia telah kafir, dan di waktu sore beriman lalu ketika pagi menjadi kafir".

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik sebuah kesimpulan, bahwa kafir sesungguhnya adalah status akhlak (moral), bukan status akidah (keyakinan).

Maksud saya, orang mukmin pun ternyata bisa menjadi kafir, ketika dia tidak menerapkan prinsip-prinsip keislaman (baca: ketuhanan) dalam hidupnya. Orang yang korupsi misal, meski dia beragama islam, tapi hatinya sesungguhnya telah mengingkari kebenaran Tuhan.

Jadi, kafir dan mukmin bukanlah nilai permanen yang berada dalam diri suatu kelompok atau golongan, dia adalah dialektika yang terjadi dalam diri kita dan punya potensi untuk muncul kapan saja.

Dalam konteks hubungan antar manusia, akan lebih bijak jika kita memandang kosakata ini sebagai hak prerogatif Tuhan, tanpa perlu menyematkannya pada kelompok masyarakat atau agama tertentu.

Kalau ditinjau secara etimologi, kafir sendiri berasal dari kata kafara, yang memiliki arti tertutup. Entah mengapa Tuhan menggunakan kata "tertutup" untuk menyebut manusia yang sonder dari jalan-Nya. Tapi jika kita mencoba sedikit meraba, bisa jadi karena ketertutupan merupakan salah satu penyakit akut yang menghalangi masuknya hidayah Tuhan ke dalam diri seorang manusia.

Orang yang hatinya tertutup untuk menerima peluang kebenaran lain, merasa paling suci dan hobi menyalahkan, tertutup dari rasa bijak untuk memahami keyakinan orang, merasa berhak menutup "surga" dan memonopolinya untuk dia sendiri, sesungguhnya sedang menyemai benih-benih "ketertutupan" dalam dirinya.

Jadi kalau kita masuk kriteria dalam sifat-sifat ketertutupan tadi, maka berhati-hatilah, jangan-jangan kitalah "kafir" yang sesungguhnya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…