Skip to main content

Razia Warung Makan Selama Ramadhan: Sebuah Pemikiran Ulang

Meski sedikit berbeda, tetapi saya melihat kebijakan razia rumah makan yang buka selama bulan Ramadhan, hampir-hampir mirip seperti ide pemblokiran akses dua situs raksasa yang sempat dilontarkan ICMI beberapa waktu sebelumnya.

Keduanya sama-sama percaya, bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang beriman dan bermoral, maka negara harus memberlakukan aturan formal yang mengikat warga negara. Bahkan tercipta kesan, negara juga harus berperan sebagai "polisi syariat" yang mengawasi dan mengatur cara beragama warganya.

Misalnya saja menutup rumah makan selama Ramadhan dengan dalih "penghormatan" terhadap mereka yang berpuasa. Dalam point ini, saya sebetulnya tidak ada masalah dengan konsep penghormatan, dengan catatan, semangat penghormatan harus dimiliki oleh kedua pihak: yang tidak berpuasa kepada yang berpuasa, maupun sebaliknya, yang berpuasa kepada yang tidak berpuasa.

Tetapi ketika satu pihak merasa lebih berhak dihormati dari yang lain, sehingga merasa perlu memadatkan "kebutuhan" akan rasa hormat itu dengan melahirkan perda untuk menutup warung-warung makan, merampas hak orang yang tidak berpuasa, termasuk penyitaan aset yang mengakibatkan timbulnya kerugian si pencari nafkah, maka yang ada disana bukan lagi penghormatan, melainkan egosentrisme berbalut kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Rasa hormat pada akhirnya muncul bukan dari dialektika hubungan kemesraan antar manusia yang bersifat cair dan murni, sehingga melahirkan rasa saling pengertian dan saling memahami. Tetapi dia telah menjelma menjadi produk "plastik" karena lahir dari aturan hukum formal yang memiliki sifat menekan.

Saya rasa kita perlu berpikir ulang mengenai pola keberagamaan kita yang semacam itu. Sebegitu lemahkah iman kita sehingga untuk mencapai prestasi keimanan tertentu kita harus menuntut semua variabel di luar diri agar sesuai dengan kemauan kita? Lalu pada point mana agama mampu mengukuhkan pondasi keyakinan bagi para pemeluknya?

Bagi seorang muslim, puasa Ramadhan memang wajib hukumnya. Tapi ingat, di sekitar kita juga terdapat orang-orang yang terlepas dari kewajiban itu, wanita hamil, pemeluk agama lain, dan sebagainya.

Sementara dalam perkara mencari nafkah, hampir tidak ada keadaan dimana mencari nafkah menjadi batal secara kewajiban, bahkan menjadi haram, selama si pencari nafkah dalam keadaan sehat. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi bahkan menegaskan bahwa bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah.

Itu artinya, mereka yang berpuasa juga tidak boleh abai terhadap mereka yang tidak berpuasa. Sebab jika semua hal yang berpotensi merusak puasa harus dihilangkan, lalu dimana konsep puasa (baca: menahan) nya?

Justru ketika mereka yang berpuasa mampu menumbuhkan "teknologi internal" dalam dirinya untuk menghalau segala bentuk godaan itu, disitulah sebenarnya keimanannya sedang diuji. Disitulah letak kesempurnaan ibadah yang sejati.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…