Skip to main content

Jejak Pencarian Seorang Kartini

Sudaahh, ndak usah banyak cangkem. Kalau ndak bisa menerima Kartini sebagai Pahlawan Nasional. Sekurang-kurangnya terimalah dia sebagai sosok yang bisa menginspirasi banyak orang. Kalaupun inspirasi itu lantas ditafsirkan dengan keyword-keyword aneh seperti persamaan hak, kesetaraan gender dan emansipasi, itu persoalan lain lagi.

Anggaplah itu kesalahan kita sebagai manusia modern, yang bisanya cuma gumunan sehingga sering salah tafsir, mengira pemikiran Kartini identik dengan semangat emansipasi ala barat yang "liar" itu.

Satu lagi yang harus kita ingat, pemikiran cerdas seorang Kartini lahir dalam sebuah kamar sepi, bukan di atas hingar bingarnya panggung seperti yang biasa kita lakukan ketika memperingatinya.

"Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang", juga bukan semata-mata ide yang muncul begitu saja. Dia adalah jejak pencarian seorang Kartini terhadap agama dan kehidupannya. Kartini terkesan dengan sebuah kalimat dalam surat Al-Baqarah ayat 257, lalu berkali-kali menuliskan kalimat itu dalam suratnya yang berbahasa Belanda.

"Minadzulumaati ilannuur, dari kegelapan menuju cahaya." Belakangan, menjelang wafatnya, kalimat inilah yang dia tulis berulang-ulang dalam suratnya.

Naaah...Kartini bisa menemukan sebuah mutiara ketika membuka Al-Qur'an dan begitu terkagum-kagum ketika memaknai isinya. Bagaimana dengan kita? Udah mbukanya facebook, masih banyak cangkem pula.

* edisi misuh

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…