Skip to main content

Duta Pancasila, Penghargaan atau Lemah Nalar?

Sebetulnya, saya nggak heran-heran amat kalau Zaskia Gotik sampai dinobatkan jadi Duta Pancasila. Sama seperti nggak herannya saya, kenapa hafidz cilik Juara 3 Musabaqah Tahfiz Quran Internasional di Mesir, tidak terlalu heboh diberitakan media.

Jaman saya masih di Jakarta dulu, saya pernah diundang sebagai tamu dalam upacara penurunan bendera di Istana Negara. Saat itu, ada satu bagian acara yang sangat saya tunggu-tunggu, yaitu nyanyian persembahan anak negeri.

Awalnya saya kira, acara itu akan diisi oleh pelajar berprestasi yang menjadi pemenang Porseni Tingkat Nasional atau perlombaan semacamnya. Tapi dugaan saya salah. Pengisi acara bukan anak-anak berprestasi yang diproduksi oleh perlombaan formal lingkup sekolah, namun justru diisi oleh pemenang kontes menyanyi di TV (saya lupa nama kontesnya), yang penyanyinya kala itu cukup dikenal sebagai "artis cilik".

Dari kasus ini kita bisa melihat, bahkan sebuah institusi formal sekelas istana pun, masih belum mampu memaknai konsep "penghargaan" yang sesungguhnya. Alih-alih memberi kebanggaan pada anak-anak berprestasi yang telah susah payah berjuang dari tingkat lokal sampai nasional, yang mereka tampilkan dan mereka junjung-junjung justru para pemenang produk industri hiburan, yang tentu saja kurang "nyambung" jika diikutkan dalam hajatan nasional acara kenegaraan.

Perlakuan negara terhadap produk dunia hiburan itu ternyata masih belum berubah sampai saat ini. Hanya karena seseorang disebut selebritis dan wajahnya dikenal oleh penduduk seantero negeri, lantas dia dinobatkan sebagai Duta Pancasila.

Okelah mungkin tujuannya baik, agar selebritis yang bersangkutan mau berubah dan menjadi lebih mencintai negaranya. Tapi apakah harus seperti itu?

Bukankah dalam kata "duta" terkandung makna, bahwa dia haruslah orang yang concern, berkompeten, dan mendarma-baktikan segenap hidupnya untuk Pancasila? Bukan hanya karena aspek "terkenal" saja?

Padahal itu baru perkara "remeh", perkara penghargaan terhadap orang-orang yang dianggap berprestasi. Belum lagi jika kita berbicara mengenai perkara-perkara lain yang lebih sensitif, yang lebih membutuhkan indikator nalar dan kepantasan.

Lambat laun kita akan menyadari, bahwa kita butuh lebih dari sekadar kesabaran dan nalar yang sehat untuk bisa hidup di negeri ini.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…