Skip to main content

Berbicara Dalam Hati

Satu anugerah yang Tuhan berikan pada manusia adalah kemampuannya untuk "berbicara dalam hati". Begitu menakjubkannya "fitur" yang satu ini, hingga kita tidak mampu benar-benar menangkap, sebetulnya ketika kita bicara dalam hati, suara itu ada dimana? Dalam hati kah? Otak kah? Pikiran kah?

"Bicara dalam hati" membuat kita mampu memilah-milah mana yang harus di lisankan dan mana yang tidak. Dia adalah filter/penyaring. Sebab selain dianugerahi kejujuran pandangan, manusia juga kerap bersentuhan dengan nilai, norma, serta etika kepantasan, sehingga ada hal-hal yang memang harus "disembunyikan".

Kemarin siang saya baru saja ngurus kartu sim yang hangus. Ketika sedang menunggu antrean, tiba-tiba datang seorang wanita cantik, berbaju ketat, lengkap dengan rok mini dan sepatu hak tinggi. Pakaiannya saja sudah cukup menarik perhatian, tapi yang lebih heboh, tanpa dinyana dia memilih tempat duduk tepat di samping saya, dan tanpa sungkan-sungkan mengambil posisi duduk dengan melingkarkan satu kakinya.

Anda bisa bayangkan, bagaimana kalau Tuhan tidak memberi saya kemampuan untuk "bicara dalam hati". Pasti semua yang saya pikirkan tentang wanita tadi, entah baik entah jorok, akan terlisan dan keluar begitu saja.

Ada dua kemungkinan jika itu terjadi. Pertama, dia cuma mbesengut dan memilih pindah dari tempat duduknya. Kedua, dia akan marah besar dan menggampar saya dengan sepatu hak tingginya.

Tapi syukurlah itu tidak terjadi. Fitur "bicara dalam hati" membuat saya tetap bisa menjawab dengan sopan ketika dia menyapa "lagi ngurus apa mas?", tanpa dia tahu bahwa jauh di kedalaman hati, saya sedang berimajinasi nakal tentangnya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…