Skip to main content

Smartphone, Phone Untuk Orang Smart

Smartphone itu bukan semata-mata telepon yg "pintar" karena dirinya sendiri. Dia juga membutuhkan kepintaran si pemakai dalam mengoperasikan. Smartphone tidak akan terasa "smart"-nya jika si pemakai tidak punya kemampuan untuk "menggali" kepintarannya.

Dulu ketika internet belum terlalu mengemuka seperti sekarang, kita memandang orang yg memiliki informasi terkini adalah orang yg selangkah lebih maju. Kemampuan dia bercerita & memberikan bermacam pandangan berbekal informasi yg dia peroleh membuat dia disebut orang "pintar".

Namun dalam era teknologi informasi sekarang ini, semuanya berubah. Kemudahan akses informasi bukan malah memudahkan kita mendapatkan informasi yang valid, namun justru memproduksi banyaknya informasi palsu yg bermunculan. Kitapun merasa was-was dan sulit membedakan, terlebih ketika informasi yang bermacam versi itu memiliki potensi menyulut perselisihan.

Pada tataran inilah menurut saya, definisi orang "pintar" harus dirubah. Kepintaran seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yg telah dia kuasai, tapi juga diukur dari bagaimana cara dia menyikapi sebuah informasi.

Jika informasi itu dibaratkan seperti semangkuk bakso, kita membutuhkan kunyahan-kunyahan agar bakso itu menjadi lembut agar bisa sampai di perut. Bahkan mungkin esensi utama makan bakso bukan hanya soal "proses" dari mulut sampai perut, namun lebih dari itu.

Kita juga butuh metode-metode tertentu untuk bisa menemukan rasa "enak" dibalik semangkok bakso tadi: menunggu sebentar agar tidak terlalu panas misal, lalu diberi cuka, saos dan kecap agar mampu kita temukan rasa enaknya, baru setelah itu dimakan. Makan bakso panas-panas & tanpa dikunyah itu konyol, dan pasti menyakitkan. Orang yg sakit jiwa sekalipun, saya rasa tidak menganut perilaku "aneh" semacam ini.

Sayangnya dunia memang tidak ideal, kita masih sering menemukan orang yg makan "bakso" dengan cara langsung ditelan. Bahkan mungkin tidak cuma ketika makan bakso, tapi juga makan mie ayam, pecel dan mendoan. Bagaimana rasanya makan menu-menu itu tanpa dikunyah? Silakan anda coba sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…