Skip to main content

Skenario Tuhan

Pagi ini saya "berjalan-jalan" ke beberapa group milik temen-temen Nasrani. Saya merasa penasaran, sedikit ingin mencuri dengar komentar mereka perihal aksi sweeping atribut natal yang dilakukan FPI di Galaxy Mall Surabaya.

Tentu saja, ada beberapa anggota group yang merasa begitu "terbakar" dengan peristiwa itu. Bahkan ada komentar-komentar yang mengajak anggota lain untuk melakukan aksi balasan.

Namun yang membuat saya terharu dan patut bersyukur adalah, karena di antara mereka masih ada manusia-manusia penuh kasih yang mencoba memberikan pandangan yang lebih menentramkan, lebih adem. Dan mengajak anggota yang lain untuk memahami masalah dengan cermat, tanpa mengedepankan emosi dan dendam.

***

Saya rasa Tuhan menciptakan manusia dengan masing-masing perannya. Ada yang berperan seperti api yang menyala-nyala, ada yang berperan seperti air yang memadamkan. Tuhan meng-ada-kan mereka semua agar tercipta sebuah keseimbangan. Dan saya percaya, se-liar apapun mereka mendalami perannya itu, tidak ada satupun perilaku mahluk-Nya yang bisa lepas dari "garis kontrol" Tuhan.

Maka keragaman agama di muka bumi ini pun menurut saya merupakan satu wujud "skenario" Tuhan. Karena tidak mungkin Tuhan kecele. Dia tidak mungkin "kecolongan" oleh perilaku mahluk-Nya yang remeh bernama manusia, yang dengan sekonyong-konyong memiliki kemampuan melakukan sesuatu di luar batas kuasa-Nya.

Saya sangat mengimani kebesaran Tuhan. Sebagaimana saya percaya, adalah hal yang sangat mudah bagiNya untuk menjadikan seluruh umat manusia -saat ini, detik ini- berada dalam satu agama yang sama.

Nyatanya Tuhan tidak melakukan semua itu. Tuhan tetap bersikukuh pada "peran"-Nya dan membiarkan manusia terpecah-pecah ke dalam banyak agama. Untuk apa? Itulah yang harus kita cari jawabnya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…