Skip to main content

Mimpi Saya Untuk FPI

Sebagai seorang muslim, saya ndak terima jika ada ormas Islam yang membumikan agama dengan cara anarkis seperti FPI. Meski demikian, saya juga ndak sepakat jika FPI sampai dibubarkan.

Sebenarnya saya punya mimpi FPI bisa membuat tersenyum banyak orang, dan saya yakin FPI mampu mewujudkan itu. Hanya saja untuk mencapainya FPI harus lebih memperluas cakrawala berpikirnya agar tidak hanya gandrung kepada simbol-simbol, namun melihat sesuatu berdasarkan esensi & substansinya juga.

Contohnya aksi sweeping yang kerap mereka lakukan setiap menjelang perayaan natal. FPI boleh saja menyatakan anti dengan atribut-atribut natal yang ada pada sosok sinterklas. Tapi semestinya FPI juga harus "belajar" dari karakter kakek dermawan yang disukai anak-anak itu. Jikapun FPI anti dengan simbol-simbol yang dibawa karakter sinterklas, mengapa tidak FPI mengadopsi ajaran "Kasih" yang dibawa olehnya?

Saya pikir FPI bisa tuhh.. bikin program kegiatan yang concern menjadikan segmen anak-anak sebagai target dakwahnya. Nama programnya misalnya saja "FPI Sahabat Anak". Pogramnya bisa diisi dengan kegiatan bagi-bagi hadiah seperti yang dilakukan sinterklas.

Jadi dalam program FPI Sahabat Anak, FPI harus rela meletakkan semua perlengkapan yang biasa mereka gunakan selama ini -seperti parang, pedang, dan pentungan- untuk kemudian menggantinya dengan karung atau tas ukuran jumbo yang berisi gimmick serta bingkisan hadiah.

Hanya saja warna karung hadiahnya perlu dimodifikasi sedikit, tidak harus berwarna solid seperti milik sinterklas, tapi kalau bisa berwarna-warni, atau bermotif kembang-kembang, atau motif hello kity, pokoknya motif yang bisa menarik perhatian anak-anak.

FPI tetap boleh mengenakan uniform kebanggaan mereka, yakni jubah, sorban dan celana cingkrang. Mereka juga diperkenankan berkeliaran di jalan-jalan dan menggelar konvoi kendaraan. Hanya saja yang mereka datangi adalah PAUD-PAUD, TK-TK, dan taman-taman bermain anak-anak.

Karena sasaran dakwah mereka adalah anak-anak, maka FPI juga harus belajar untuk tak lagi berteriak-teriak seperti biasanya. FPI harus mulai belajar tersenyum, belajar memberikan sapaan dengan ramah, belajar berbicara lemah lembut kepada setiap anak yang mereka temui, tanpa mempedulikan agama orangtuanya.

Saya rasa FPI dengan "tampilan" seperti itu tidak hanya akan dirindukan anak-anak, namun juga akan menjadi lebih dicintai masyarakat. Sebab senyum simpul yang tampak dari bibir banyak orang, adalah satu pertanda telah tercapainya misi "memberikan kemaslahatan bagi umat".

Hidup FPI..!!
Allahu Akbar!!

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…