Skip to main content

Ketika Keponakan Bertanya Tentang Neraka

"Om Alif, kenapa sebelum masuk sulga manusia halus disiksa dulu di nelaka? Kan Allah Maha Penyayang?"

Rafa, keponakan saya yang baru berusia 7 tahun, tiba-tiba menodong saya dengan pertanyaan itu. Agak bingung juga saya gimana jawabnya. Maklumlah..saya kan seorang pendosa, kok yo ditanya bahasan tingkat tinggi kaya gitu sama anak kecil.

Pertanyaan Rafa membuat saya penasaran, bagaimana sekolah memberikan gambaran tentang neraka kepada anak-anak? Apakah sarat dengan muatan kekerasan seperti yang saya dapat waktu kecil?

Yang jelas saya tak mungkin menjelaskan neraka dengan imajinasi seperti itu. Sebab, meski saya seorang pendosa, tapi ketika menghadapi anak-anak sesungguhnya saya memiliki hati yang lembut -sekurang-kurangnya lembut menurut definisi saya sendiri :p

Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya punya ide untuk menjawabnya..

"Sekarang ginii Rafaa.. Om Arif mau tanyaa.. Misalkan Rafa pinjem sepeda barunya temen, lalu pas dipake Rafa sepedanya sering nabrak, sering jatuh, lalu lecet-lecet dan rusak. Kira-kira Rafa mau ngembaliin sepedanya dalam keadaan kaya gitu ga?"

"Emmmm..yaa ngga laah oom, ental temennya malah.."

"Yaa betul, marah dan sedih. Jadi Rafa mesti gimana biar temennya ga sedih?"

"Sepedanya dipelbaiki dulu om.."

"Ya pinteeer. Begitu juga dengan manusia. Tubuh kita ini, atau biasa disebut dengan jasad, bisa diibaratkan seperti sepeda tadi. Dia adalah milik Allah dan dipinjamkan oleh Allah kepada kita dalam keadaan suci. Jadi kalau manusia menggunakannya untuk berbuat dosa, maka jasad ini jadi "rusak", jadi tidak suci lagi. Makanya sebelum dikembalikan, tubuh ini harus diperbaiki dulu biar bersih lagi, suci lagi.. Rafa mesti tau dooonk.. selain Maha Penyayang, Allah juga Maha Suci.."

"Oohh..jadi tubuhnya halus dipelbaiki dulu ya om?"

"Yap betuul! Jadi neraka sebenarnya bukan tempat menyiksa. Namun tempat untuk "memperbaiki" yang rusak seperti bengkel sepeda. Kalau udah beres semuanya, udah kaya baru lagi, baru deeeh dikembalikan kepada yang punya, yaitu Allah swt. Begitu sayang.."

Rafa mlongo selama beberapa saat, seperti sedang mencerna penjelasan saya. Setelah itu dia nyengir. Untunglah perbincangan beralih ke topik lain, sehingga tidak muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang lebih "menyiksa".

***

Saya jadi ingat nasihat seorang guru nurani, "Bayi dan anak-anak sesungguhnya masih suci, mereka berada pada maqam ma'rifat. Karena itu jangan pernah menyepelekan kata-kata mereka.."

Meski secara dzohir pertanyaan di awal tulisan tadi diucapkan oleh seorang anak kecil berusia 7 tahun, namun saya percaya, bahwa yang sedang "berbicara" tadi sesungguhnya adalah Allah Azza wa Jalla. Melalui mulut seorang Rafa Allah menyindir saya, mengingatkan saya.

Maka penjelasan saya tadi sebenarnya bukan ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada Rafa, namun justru sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, untuk lebih memaknai kehidupan di dunia dan kehidupan yang akan datang setelahnya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…