Skip to main content

Indonesia Butuh "Orang Terkenal", Bukan Orang Pintar

Banyaknya "artis" yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dan mendapatkan perolehan suara yang signifikan dalam pilkada kemarin, sebetulnya cukup menjadi bukti bahwa untuk menuntaskan persoalan di negeri ini, bangsa ini lebih butuh orang terkenal daripada orang pintar.

"Terkenal" saat ini telah menjadi satu nilai yang didambakan banyak orang, sehingga karena ketenaran, seseorang akan dianggap lebih bernilai, lebih segalanya, meski secara kualitas diri orang yang "terkenal" tadi kalah jauh dibandingkan mereka yang mumpuni di bidangnya tapi "tidak terkenal".

Dalam sebuah pesta demokrasi, seorang tokoh masyarakat yang sekian lama mengabdikan diri untuk masyarakat, bisa tersingkir oleh "artis" yang sudah dikenal secara nasional, meski kerjaannya cuma sibuk mencari uang di industri hiburan.

Seorang ustadz yang sering nongol di TV akan lebih "dihargai" dan lebih dihormati oleh banyak orang, daripada guru-guru ngaji yang dengan penuh kerelaan dan tanpa diupah fokus mengajarkan ilmu agama di pelosok-pelosok kampung.

***

Saya tidak sedang berbicara tentang pamrih, tentang keadilan yang seharusnya didapatkan oleh mereka yang "tidak terkenal", tidak! Saya sedang berbicara tentang nalar bangsa ini yang menurut saya sudah saatnya untuk direkonstruksi.

Nalar yang saya maksudkan itu adalah: "Pada perspektif manakah 'orang terkenal' dianggap lebih memiliki kemampuan dibanding mereka yang tidak terkenal? Adakah korelasi antara ketenaran dan kredibiltas seseorang?

Saya rasa rakyat butuh kejelasan, apakah lembaga legislatif yang ada sekarang ini benar-benar berfungsi sebagai penyalur aspirasi, ataukah hanya sekadar tempat mencari uang.

Meletakkan sembarang "artis" dalam deretan wakil rakyat menjadi sah, jika orientasinya adalah yang kedua. Tapi jika kita masih menganggap lembaga legislatif kita adalah penyalur aspirasi rakyat yang terhormat, maka "artis", selebritis, atau siapapun namanya, haruslah melalui kaidah fit dan proper test yang jelas, kalau perlu diikutkan dalam mekanisme debat terbuka yang disaksikan oleh para calon pemilihnya.

Saya yakin anak cucu kita kelak akan menjadi orang-orang hebat, yang memiliki pemikiran serta nalar yang jauh lebih kritis dan lebih maju dibandingkan kita sekarang, saya begitu meyakini itu. Dan saya tidak mampu membayangkan, apa yang akan terjadi ketika kelak mereka menengok sejarah, lalu menemukan deretan nama artis, pelawak dan penyanyi yang tidak memiliki kejelasan fungsi dan kontribusi disana.

Bisa jadi mereka akan mencibir, atau bahkan mungkin tertawa terbahak setelah mengetahui nama-nama wakil rakyat yang dipilih oleh bapak, ibu dan mbah-mbahnya itu tak lebih dari produk pemberhalaan maha lebay atas sosok "artis terkenal".

Tanyakan pada diri kita, apakah kita siap ditertawakan oleh anak cucu kita kelak dengan produk "nalar" yang menggelikan semacam itu? Silakan kalau anda siap, kalau saya sih tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…