Skip to main content

Belajar dari Karl Max dan Para Mufassir

Jika Karl Marx mengatakan "Agama itu candu (opium)", tentu itu bukan karena dia anti dengan agama. Sebab yang dia "serang" dalam statementnya itu sebenarnya bukanlah agama itu sendiri, melainkan perilaku kaum agamawan pada masanya, yang menjadikan agama sebagai propaganda religius untuk meredam gejolak kaum tertindas.

Karl Marx memiliki kegelisahan mendalam pada orang-orang miskin, terlebih ketika agama selaku "produk" Tuhan dan diharapkan menjadi pemacu kebangkitan kaum lemah, justru malah berfungsi sebagai angan-angan semu yang meninabobokan mereka yang miskin dan tertindas agar tetap "bahagia" dalam kemiskinan dan ketertindasannya.

Namun sayang, statement Karl Marx berhenti pada tataran teks semata. Banyak orang menganggap perkataannya sebagai propaganda anti agama, tanpa berusaha memahami ada apa dibalik statementnya itu. Maka yang terjadi sampai saat ini, aliran "kiri" selalu dihubung-hubungkan dengan gerakan anti-Tuhan, nama Karl Marx menjadi "haram" disebut dalam diskusi-diskusi keagamaan, termasuk nilai-nilai positif yang dia usung pun, sontak ikut-ikutan "diharamkan".

Saya pikir kita membutuhkan lebih dari sekadar kearifan untuk bisa memahami pola pikir seseorang. Untuk menemukan "mutiara" tersembunyi di baliknya, kita tidak cukup melihat seorang manusia hanya sebagai produk utuh yang tiba-tiba muncul begitu saja. Kita juga perlu menilik sejarah hidupnya, mempelajari apa yang dia temui, apa yang dia lihat dan dalam atmosfir sosial seperti apa dia hidup.

Jangankan hanya seorang Karl Marx -yang membawakan pesan-pesan pembebasan sebagai produk otentik hasil pemikiran manusia- bahkan pesan-pesan ketuhanan yang sudah tertuang dalam bentuk teks kitab suci pun, akan menemui subyektifitas ketika berada di tangan seorang mufassir (ahli tafsir).

Silakan buka Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab, kita akan menemukan pesan-pesan toleransi dan kerukunan yang sangat kental di sana. Dalam hal menafsirkan kata jihad, beliau tampak sangat berhati-hati dan cenderung "menghindari" tafsir jihad sebagai gerakan mengangkat senjata. Ini sangat bisa dipahami, sebab beliau hidup di Indonesia, sebuah negara tenang dan damai yang sarat dengan keragaman sosial budaya.

Nuansa yang berbeda akan sangat terasa jika setelahnya anda membuka Tafsir Fi Zilalil Quran karya Sayyid Quthb. Sebagai seorang yang hidup pada masa gejolak Revolusi Mesir, Sayyid Quthb cenderung memiliki penafsiran yang cukup radikal pada keyword-keyword tertentu, seperti jihad, jahiliyyah dan ummah. Maka tak terlalu mengherankan jika Sayyid Qutb dituding sebagai otak dibalik kebangkitan gerakan radikalisme Islam di timur tengah, meski ada juga yang menyangkalnya.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…