Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2015

Belajar dari Karl Max dan Para Mufassir

Jika Karl Marx mengatakan "Agama itu candu (opium)", tentu itu bukan karena dia anti dengan agama. Sebab yang dia "serang" dalam statementnya itu sebenarnya bukanlah agama itu sendiri, melainkan perilaku kaum agamawan pada masanya, yang menjadikan agama sebagai propaganda religius untuk meredam gejolak kaum tertindas.

Karl Marx memiliki kegelisahan mendalam pada orang-orang miskin, terlebih ketika agama selaku "produk" Tuhan dan diharapkan menjadi pemacu kebangkitan kaum lemah, justru malah berfungsi sebagai angan-angan semu yang meninabobokan mereka yang miskin dan tertindas agar tetap "bahagia" dalam kemiskinan dan ketertindasannya.

Namun sayang, statement Karl Marx berhenti pada tataran teks semata. Banyak orang menganggap perkataannya sebagai propaganda anti agama, tanpa berusaha memahami ada apa dibalik statementnya itu. Maka yang terjadi sampai saat ini, aliran "kiri" selalu dihubung-hubungkan dengan gerakan anti-Tuhan, nama Karl…

Ketika Keponakan Bertanya Tentang Neraka

"Om Alif, kenapa sebelum masuk sulga manusia halus disiksa dulu di nelaka? Kan Allah Maha Penyayang?"

Rafa, keponakan saya yang baru berusia 7 tahun, tiba-tiba menodong saya dengan pertanyaan itu. Agak bingung juga saya gimana jawabnya. Maklumlah..saya kan seorang pendosa, kok yo ditanya bahasan tingkat tinggi kaya gitu sama anak kecil.

Pertanyaan Rafa membuat saya penasaran, bagaimana sekolah memberikan gambaran tentang neraka kepada anak-anak? Apakah sarat dengan muatan kekerasan seperti yang saya dapat waktu kecil?

Yang jelas saya tak mungkin menjelaskan neraka dengan imajinasi seperti itu. Sebab, meski saya seorang pendosa, tapi ketika menghadapi anak-anak sesungguhnya saya memiliki hati yang lembut -sekurang-kurangnya lembut menurut definisi saya sendiri :p

Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya punya ide untuk menjawabnya..

"Sekarang ginii Rafaa.. Om Arif mau tanyaa.. Misalkan Rafa pinjem sepeda barunya temen, lalu pas dipake Rafa sepedanya sering nabrak, sering …

Mimpi Saya Untuk FPI

Sebagai seorang muslim, saya ndak terima jika ada ormas Islam yang membumikan agama dengan cara anarkis seperti FPI. Meski demikian, saya juga ndak sepakat jika FPI sampai dibubarkan.

Sebenarnya saya punya mimpi FPI bisa membuat tersenyum banyak orang, dan saya yakin FPI mampu mewujudkan itu. Hanya saja untuk mencapainya FPI harus lebih memperluas cakrawala berpikirnya agar tidak hanya gandrung kepada simbol-simbol, namun melihat sesuatu berdasarkan esensi & substansinya juga.

Contohnya aksi sweeping yang kerap mereka lakukan setiap menjelang perayaan natal. FPI boleh saja menyatakan anti dengan atribut-atribut natal yang ada pada sosok sinterklas. Tapi semestinya FPI juga harus "belajar" dari karakter kakek dermawan yang disukai anak-anak itu. Jikapun FPI anti dengan simbol-simbol yang dibawa karakter sinterklas, mengapa tidak FPI mengadopsi ajaran "Kasih" yang dibawa olehnya?

Saya pikir FPI bisa tuhh.. bikin program kegiatan yang concern menjadikan segmen ana…

Mengapa Saya Memberi Ucapan Natal?

Sesaat setelah mengucapkan Selamat Natal kepada seorang teman Kristiani, dengan sedikit 'rikuh' dia bertanya, mengapa saya mengucapkan natal padanya. "Bukankah bagi umat muslim mengucapkan natal itu haram dan dilarang?"

Saya katakan ke dia, bahwa dalam perkara memberikan ucapan natal kepada umat kristiani, di kalangan umat muslim sendiri terdapat perbedaan. Ada ulama yang melarang mengucapkan natal, namun ada juga yang membolehkan. Masing-masing dari mereka punya dasarnya.

Saya juga menjelaskan ke dia, jangankan dalam hal mengucapkan natal -yang notabene merupakan hubungan antar agama- bahkan dalam perayaan internal agama Islam sendiri, seperti perayaan Maulid Nabi misalnya, di kalangan muslim juga terdapat perbedaan, dimana ada yang merayakan, tapi ada pula yang melarang merayakan.

Lalu diapun bertanya, mana dari semua pendapat itu yang benar?

Saya tersenyum mendengar pertanyaannya. Saya bilang, bahwa saya tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya. Karena satu-satu…

Skenario Tuhan

Pagi ini saya "berjalan-jalan" ke beberapa group milik temen-temen Nasrani. Saya merasa penasaran, sedikit ingin mencuri dengar komentar mereka perihal aksi sweeping atribut natal yang dilakukan FPI di Galaxy Mall Surabaya.

Tentu saja, ada beberapa anggota group yang merasa begitu "terbakar" dengan peristiwa itu. Bahkan ada komentar-komentar yang mengajak anggota lain untuk melakukan aksi balasan.

Namun yang membuat saya terharu dan patut bersyukur adalah, karena di antara mereka masih ada manusia-manusia penuh kasih yang mencoba memberikan pandangan yang lebih menentramkan, lebih adem. Dan mengajak anggota yang lain untuk memahami masalah dengan cermat, tanpa mengedepankan emosi dan dendam.

***

Saya rasa Tuhan menciptakan manusia dengan masing-masing perannya. Ada yang berperan seperti api yang menyala-nyala, ada yang berperan seperti air yang memadamkan. Tuhan meng-ada-kan mereka semua agar tercipta sebuah keseimbangan. Dan saya percaya, se-liar apapun mereka men…

Smartphone, Phone Untuk Orang Smart

Smartphone itu bukan semata-mata telepon yg "pintar" karena dirinya sendiri. Dia juga membutuhkan kepintaran si pemakai dalam mengoperasikan. Smartphone tidak akan terasa "smart"-nya jika si pemakai tidak punya kemampuan untuk "menggali" kepintarannya.

Dulu ketika internet belum terlalu mengemuka seperti sekarang, kita memandang orang yg memiliki informasi terkini adalah orang yg selangkah lebih maju. Kemampuan dia bercerita & memberikan bermacam pandangan berbekal informasi yg dia peroleh membuat dia disebut orang "pintar".

Namun dalam era teknologi informasi sekarang ini, semuanya berubah. Kemudahan akses informasi bukan malah memudahkan kita mendapatkan informasi yang valid, namun justru memproduksi banyaknya informasi palsu yg bermunculan. Kitapun merasa was-was dan sulit membedakan, terlebih ketika informasi yang bermacam versi itu memiliki potensi menyulut perselisihan.

Pada tataran inilah menurut saya, definisi orang "pintar"…

Indonesia Butuh "Orang Terkenal", Bukan Orang Pintar

Banyaknya "artis" yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dan mendapatkan perolehan suara yang signifikan dalam pilkada kemarin, sebetulnya cukup menjadi bukti bahwa untuk menuntaskan persoalan di negeri ini, bangsa ini lebih butuh orang terkenal daripada orang pintar.

"Terkenal" saat ini telah menjadi satu nilai yang didambakan banyak orang, sehingga karena ketenaran, seseorang akan dianggap lebih bernilai, lebih segalanya, meski secara kualitas diri orang yang "terkenal" tadi kalah jauh dibandingkan mereka yang mumpuni di bidangnya tapi "tidak terkenal".

Dalam sebuah pesta demokrasi, seorang tokoh masyarakat yang sekian lama mengabdikan diri untuk masyarakat, bisa tersingkir oleh "artis" yang sudah dikenal secara nasional, meski kerjaannya cuma sibuk mencari uang di industri hiburan.

Seorang ustadz yang sering nongol di TV akan lebih "dihargai" dan lebih dihormati oleh banyak orang, daripada guru-guru ngaji yang dengan p…

Ibadah: Perintah atau Pemberian Tuhan?

Kalau dengan shalat membuat hati kita menjadi lebih tenang, kalau dengan berpuasa ternyata bisa menumbuhkan sikap sabar, bisa jadi selama ini, semua amalan yang kita kira "perintah" itu, sebenarnya adalah "pemberian"..

Ibarat pacaran dengan seorang cewek, jika suatu saat si cewek "memerintahkan" saya untuk mencium pipinya. Apakah saya masih menganggap itu sebagai perintah? Atau jangan-jangan...itu adalah "pemberian"?

Mohon maaf jika pendosa seperti saya baru mampu menggunakan analogi jorok seperti itu. Namun saya meyakini, tidak ada satu manusia pun yang merasa nyaman ketika hatinya "gemrungsung" dan tidak tenang.

Sebrengsek apapun seorang manusia, secara ajaib Tuhan "mengatur" kemurnian manusia agar memiliki kerinduan akan ketenangan batin. Dan itu bisa diraih hanya jika manusia mendekatkan diri kepada Tuhan.

Maka jika sholat, puasa dan amalan lain ternyata mampu memenuhi seluruh kebutuhan akan ketenangan batin tadi, maka se…

Saya Tidak Butuh Wakil Rakyat!

Sebagai bagian dari Rakyat Indonesia, saya adalah pemimpin bagi diri saya sendiri, dan saya sama sekali tidak butuh "wakil". Jadi, orang asing seperti anda, tak usahlah merasa punya hak untuk ambil bagian dalam hidup saya dan berlagak mewakili saya.

Saya hanya butuh "wakil" besok, ketika saya akan melamar wanita pujaan hati saya. Posisi "wakil" itupun cukup saya limpahkan kepada ayah saya, wali saya, dialah satu gambaran manusia yang punya andil besar dalam hidup saya.

Dialah manusia yang telah membesarkan saya, paling mengerti kebutuhan saya, selalu ada di samping saya, dalam bagaimana pun keadaan saya. Dia tidak punya kepentingan apapun atas diri saya, kecuali "kepentingan" untuk melihat saya bahagia. Begitulah saya memahami kata "wakil" dalam pengertiannya yang paling hakiki.

Jadi kalau saat ini anda berniat memproklamirkan diri sebagai "wakil" saya, dengan tegas saya akan MENOLAK. Dan saya anggap niat itu sebagai wujud k…

Atheis Itu "Vegetarian"

Pernah ada seorang atheis yang bilang ke saya "Konsep ketuhanan dalam agama Kristen itu seperti hubungan keluarga, ada Tuhan Bapa, Tuhan Ibu dan Tuhan Anak. Sedangkan Konsep ketuhanan dalam agama Islam lebih mirip seperti pasangan homo: ada Tuhan, dengan rasul Muhammad sebagai kekasihnya.."

Saya tidak mengomentari statementnya itu. Pertama, karena perdebatan tentang Tuhan -terutama dengan seorang atheis- tidak menarik minat saya. Kedua, karena ketika dia bilang itu saya sedang asyik main gadget. Maklum laah..jaman dia ngomong itu saya lagi demam akut sama Game Hayday :D

Barangkali sikap saya akan berbeda jika yang mengajak bicara adalah seorang pemeluk agama Kristen, Katolik, Budha atau agama lainnya. Secara sukarela saya akan angkat bicara dan menghadapinya dengan serius.

Itupun hanya untuk menjelaskan konsep ketuhanan dalam agama saya, dan bukan untuk mengkonter "tuhannya" si lawan bicara, apalagi sampai memperdebatkan mana Tuhan yang lebih real, lebih oke, dan l…

Harus Punya Kepentingan

Ndak perlu heran kalau sekarang ini kita sering menyaksikan banyaknya pejabat yang menyalahgunakan jabatan dan wewenang.

Juga ndak usah kaget, kalau suatu hari nanti ada temen yang lama ndak ketemu tiba-tiba main ke rumah, bukan untuk nostalgia ngobrolin masa kecil yang indah, tapi malah mendominasi obrolan dengan nawarin produk dan barang jualan..

Semuanya wajar kok..

Sebab sistem pergaulan kita, pola hubungan kemasyarakatan kita, selalu mengajari kita agar selalu punya "kepentingan" ketika melakukan segala hal.

Di kantor-kantor pemerintahan, di fasilitas-fasilitas publik, kita bisa melihat bahwa dalam urusan remeh -seperti membuka pintu pun- kita harus punya "kepentingan"..