Skip to main content

Televisi di Balik Drama

Kalau sampeyan sampai menitikkan air mata ketika nonton acara dzikir akbar di TV, atau reality show, atau acara-acara pengajian, itu tidak selalu berarti sampeyan punya hati yang lembut. Bisa jadi sampeyan menangis karena saking pintarnya para pekerja dibalik acara itu merekayasa "nuansa" haru.

Khusus untuk urusan membangun "nuansa" ini, sampeyan perlu berterima kasih pada tim editor di TV, yang dengan kelihaiannya mampu memilih instrumental sendu yang cocok dipakai sebagai backsoundnya, mampu memilah-milah tayangan mana yang bisa dipakai dan harus dibuang agar nuansa harunya tetap terjaga.

Sampeyan juga harus mengacungi jempol pada kameramen, yang sangat jago memainkan angle, shot dan gerakan kamera. Pintar mencari objek yang mendukung, sekaligus mengatur sehalus mungkin pengambilan gambarnya.

Sampeyan juga harus angkat topi pada tim kreatif, yang telah berusaha memeras pikiran sehingga mampu mengarahkan apa yang harus dilakukan oleh artisnya, ustadznya, kyainya. Di tangan mereka, nuansa apapun bisa diatur supaya tampak nyata.

Mohon maaf..
Jika sampeyan termasuk penonton TV yang akut, sesungguhnya apa yang ada dalam diri sampeyan: tangisannya, pola pikirnya, kesyahduannya, semuanya, sebenarnya hanyalah satu paket "palsu" yg telah "direkayasa" dengan matang di meja tim kreatif jauh sebelumnya.

Semua itu menjadi tidak palsu, jika setelah TV itu mati, "nuansa" itu tetap menyala. Nuansa yang tadinya hanya "produk" tontonan itu menjelma menjadi aksi nyata. Keimananmu makin bertambah, isak tangismu menggerakkan tanganmu untuk berderma pada sesama, empati menumbuhkan keikhlasanmu berbuat baik pada siapa saja.

Sebab...

Tujuan utama yang ingin diraih manusia-manusia di belakang TV itu bukan terletak pada meningkatnya keimanan penontonnya, atau bertambahnya empati pemirsanya. Tapi hanya diukur berdasarkan besaran profit yang bisa mereka raup dari kucuran dana sponsor-sponsor di acara mereka. Itu saja..

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…