Skip to main content

Mahluk Halus: Dari Urusan Bonceng-Membonceng Sampai Suara Tangisan

Beberapa hari ini saya punya aktifitas baru, nganter rewang pulang setiap malam. Maklum rumahnya jauuuh, jadi harus dianter pake motor. Setiap nganter, saya kerap melihat kebiasaan aneh yang dilakukan penduduk disitu, yakni "membunyikan klakson" ketika melewati areal pemakaman.

Awalnya saya kira itu cuma kebetulan, sebagai penyapa ketika kami saling berpapasan. Namun setelah lama-lama saya perhatikan, itu mereka lakukan tidak hanya ketika kami berpapasan, tapi juga setiap akan melewati areal pemakaman.

Ketika saya tanyakan hal itu kepada rewang saya, dia membenarkan kalau "membunyikan klakson" sudah menjadi kebiasaan yg dilakukan penduduk sekitar. Mereka percaya, membunyikan klakson adalah kode sapaan bagi "penunggu" disitu, juga bertujuan agar mereka tidak diganggu. "Maklum kuburannya angker", begitu katanya.

Lebih jauh rewang saya bercerita, pernah ada penduduk yg "diboncengi" mahluk halus sampai di rumahnya. Konon itu terjadi karena dia tidak "membunyikan klakson". Hmmm...

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yg percaya dengan ke "rewel" an mahluk halus sampai ke urusan bonceng-membonceng apalagi minta diklakson. Kalaupun harus menyapa, barangkali mengucapkan salam adalah sapaan terbaik. Niatnya juga bukan untuk "penunggu", tapi untuk ahli kubur.

Jadiii..sempet tuh beberapa kali saya membuat percobaan untuk membuktikan cerita rewang saya tadi. Saya ndak ngucapin salam apalagi pencet klakson. Pokoknya dieeem aja pas lewat dah. Tapi ternyataaa..ndak terjadi apa-apa tuh. Apa mungkin karena saya pake motor Tiger jadi buat mbonceng ketinggian yaa? Hehe..

***

Meski begituuu, bukan berarti saya ndak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu lhoooo.. Karena saya pun baru mengalami kejadian gaib belum lama ini.

Itu terjadi ketika saya menemani seorang teman berziarah ke kuburan almarhum ayahnya. Ketika hendak pulang, kami tiba-tiba dikejutkan oleh suara seorang perempuan yg menangis terisak, tidak jauh dari arah kami.

Merasa sumber suara sangat dekat, saya pun mencoba mencari darimana asal suara si wanita itu berada. Lamaaaaa saya muter-muter mencari asal suara itu, namun tak kunjung ketemu.

Setelah suara itu hilang. Akhirnya kami menyadari kalau apa yg barusan kami alami adalah sebuah peristiwa gaib.

Tidak, kami tidak merasa takut. Kami meyakini peristiwa itu bukanlah upaya menakuti-nakuti seperti yg dilakukan "mahluk halus nakal" seperti di desa rewang saya tadi, namun lebih mirip sebagai sebuah "pesan". Pesan agar kami lebih menghargai "jatah" yg masih diberikan, mumpung masih diberikan jasad & kehidupan di atas muka bumi.

Perlu dicatat, peristiwa itu tidak terjadi pada malam atau sore hari. Namun justru pada pukul 1 (satu) siang hari.

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…