Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2015

Persamaan Jomblo, Single dan LDR

Temen saya, seorang jomblo, pernah cerita, "Waktu masih kecil aku suka liatin orang gede pacaran. Eh..sekarang udah gede malah sering liat anak kecil pacaran. Lha trus aku pacarane kapan..?"

"Ya mbuh", jawabku. "Kamu itu ya meratap seperti itu kok sama aku. Apa ga salah tempat?"

Tapi, temenku itu ndak mau disebut jomblo. Dia selalu menjelaskan bahwa dirinya single, bukan jomblo.

"Jomblo itu beda sama single, rif.. Single itu ndak punya pasangan karena emang pengin sendiri. Kalau jomblo, dia ndak punya pasangan karena ndak laku-laku. Yaa kaya kamu itu..", begitu katanya sambil senyum-senyum penuh kemenangan.

Lalu saya bilang ke dia..

"Jomblo, single, LDR sebenernya cuma beda status dan istilah aja. Selebihnya sama. Sama-sama nggak dapet sentuhan di hari libur.."

Alhamdulillah, setelah mendengar kata-kata saya itu, senyum dia hilang seketika.

Selamat hari libur!

Televisi di Balik Drama

Kalau sampeyan sampai menitikkan air mata ketika nonton acara dzikir akbar di TV, atau reality show, atau acara-acara pengajian, itu tidak selalu berarti sampeyan punya hati yang lembut. Bisa jadi sampeyan menangis karena saking pintarnya para pekerja dibalik acara itu merekayasa "nuansa" haru.

Khusus untuk urusan membangun "nuansa" ini, sampeyan perlu berterima kasih pada tim editor di TV, yang dengan kelihaiannya mampu memilih instrumental sendu yang cocok dipakai sebagai backsoundnya, mampu memilah-milah tayangan mana yang bisa dipakai dan harus dibuang agar nuansa harunya tetap terjaga.

Sampeyan juga harus mengacungi jempol pada kameramen, yang sangat jago memainkan angle, shot dan gerakan kamera. Pintar mencari objek yang mendukung, sekaligus mengatur sehalus mungkin pengambilan gambarnya.

Sampeyan juga harus angkat topi pada tim kreatif, yang telah berusaha memeras pikiran sehingga mampu mengarahkan apa yang harus dilakukan oleh artisnya, ustadznya, kyainya. …

Mahluk Halus: Dari Urusan Bonceng-Membonceng Sampai Suara Tangisan

Beberapa hari ini saya punya aktifitas baru, nganter rewang pulang setiap malam. Maklum rumahnya jauuuh, jadi harus dianter pake motor. Setiap nganter, saya kerap melihat kebiasaan aneh yang dilakukan penduduk disitu, yakni "membunyikan klakson" ketika melewati areal pemakaman.

Awalnya saya kira itu cuma kebetulan, sebagai penyapa ketika kami saling berpapasan. Namun setelah lama-lama saya perhatikan, itu mereka lakukan tidak hanya ketika kami berpapasan, tapi juga setiap akan melewati areal pemakaman.

Ketika saya tanyakan hal itu kepada rewang saya, dia membenarkan kalau "membunyikan klakson" sudah menjadi kebiasaan yg dilakukan penduduk sekitar. Mereka percaya, membunyikan klakson adalah kode sapaan bagi "penunggu" disitu, juga bertujuan agar mereka tidak diganggu. "Maklum kuburannya angker", begitu katanya.

Lebih jauh rewang saya bercerita, pernah ada penduduk yg "diboncengi" mahluk halus sampai di rumahnya. Konon itu terjadi karena…