Skip to main content

Belajar Assalamu'alaykum Dari Cak Nun

Budayawan Emha Ainun Nadjib atau akrab dipanggil Caknun, suatu saat pernah menjadi pembicara dalam forum yang dihadiri oleh pemuka lintas agama. Sebelum memulai pembicaraannya, seperti biasa Caknun menyapa hadirin dengan mengucapkan salam.

"Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh.."

Semua yang hadir sontak menjawab salam tersebut, tak terkecuali mereka yang beragama selain Islam. Setelah itu Caknun menjelaskan perihal salam yang baru diucapkannya tadi.

"Assalamu'alaykum bagi orang Islam itu bukan hanya kalimat sapaan, tapi juga doa. Namun jika dipahami lebih jauh, assalamu'alaykum juga merupakan ikrar & janji.

Ketika saya mengucap assalamu'alaykum kepada semua yang hadir disini tanpa kecuali, berarti saya berjanji akan menjamin aman semua yang ada pada diri anda. Bahwa tidak akan saya ijinkan pada diri saya baik itu sikap, perkataan & perbuatan yang menyakiti anda."

Kami yang hadir dalam forum itu menyimak dengan seksama kata-kata Caknun.

"Nabi Muhammad mendefinisikan muslim dengan jelas. Muslim adalah orang yang kata dan tindakannya membuat orang lain aman. Sedangkan mukmin adalah orang yang kalau ada dia, orang lain menjadi aman hartanya, nyawanya & kehormatannya. Jadi kalau sikap saya sampai menyakiti anda, berarti Islam saya 'batal'” tegas Cak Nun.

Kata-kata Caknun membuat semua orang yang mendengar tertegun. Beberapa bahkan menganggukkan kepala tanda setuju. Tak terkecuali saya. Saya merinding ketika mendengar kalimat terakhirnya tadi. Kata-kata caknun menghujam pemahaman keberagamaan saya. Keangkuhan religius saya runtuh seketika.

***

Saat ini banyak orang yang mengaku dirinya Islam, tapi dalam hatinya dipenuhi bulir-bulir kebencian. Seperti yang sedang ngetrend sekarang ini. Di media sosial, di pengajian-pengajian, dengan sangat frontal & berulang-ulang diserukan larangan mengucapkan Natal. Bahkan ada beberapa ormas yang merasa berhak melakukan sweeping di ruang publik terhadap atribut Natal.

Mereka tidak hanya menyakiti hati sesamanya, namun juga menginjak-injak kehormatan serta keyakinan yang berbeda. Mereka tidak paham, bahwa yang mereka lakukan bukan membumikan Islam dalam wajahnya yang santun, namun menyorong Islam sebagai agama yang garang & anti-toleran. Jauh. Sangat jauh dari konsep "assalamu'alaykum" yang disampaikan Caknun tadi.

Duh Gusti.. berilah kami kemampuan untuk menjalani Islam yang sejati..

Arif 2014,

Comments

Popular posts from this blog

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…