Skip to main content

Posts

Demokrasi Kok Konservatis?

Beberapa hari menjelang Pilkada DKI putaran pertama kemarin, saya sempat bikin gara-gara sama orang. Pasalnya, komentar saya di sebuah status facebook, membuat yang punya status naik pitam.

Jadi ceritanya, pas lagi asyik berjalan-jalan di beranda facebook pandangan saya terhenti pada status seorang teman yang menurut saya cukup provokatif. Dalam statusnya itu dia menyebut mereka yang mencoblos paslon selain jagoan dia sebagai orang yang "gobloknya nembus sampe akherat".

Merasa tergelitik, saya pun meninggalkan "jejak" di statusnya dengan menorehkan plesetan dari quotenya Descartes: "saya berpikir, maka saya golput." Tak disangka, ternyata respon ts jauh melebihi perkiraan saya. Selain menyarankan agar saya pindah warga negara, dia juga menyebut saya nggak bermanfaat dan cuma mau terlihat hebat.

Saya marah? Ohh nggak donk. Orang bebal kayak saya mana bisa marah. Kalau ngeyel iya. Saya berujar bahwa golput juga "bagian" dari demokrasi. Saya juga b…
Recent posts

Resensi Film Dangal

Udah ada yang nonton film Dangal?
Saya baru menontonnya tadi malam. Satu kata untuk film ini: keren!

Dangal adalah film drama olahraga yang diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang Mahavir Singh Phogat (diperankan oleh Amir Khan), pegulat juara nasional India yang terpaksa mengakhiri karirnya karena harus menghidupi keluarga. Meski dia bersumpah kelak jika punya anak laki-laki akan menggantikan dirinya mempersembahkan emas bagi negaranya, tetapi takdir berkata lain. Kelahiran demi kelahiran selalu memberinya anak perempuan.

Hampir saja dia mengubur impiannya itu, hingga pada suatu hari aduan tetangganya mengantarkannya pada secercah harapan. Si tetangga melaporkan kedua anaknya, Geeta dan Babita kecil yang telah menghajar kedua anak laki-lakinya hingga babak belur. Bukannya memarahi, Mahavir malah bertanya bagaimana teknik berkelahi yang mereka gunakan. Saat itulah dia mulai menyadari darah pegulat telah mengalir dalam tubuh anaknya. Ambisinya kembali muncul.

Maka mulailah tempaan…

"Lampu Sein" Darurat

Waktu masih di Jakarta, saya sering nimbrung dalam perbincangan nggak penting bareng temen-temen kerja. Yang dibahas variatif, kadang soal perilaku boss yang nyebelin, anomali kebijakan pemerintah, sampe sekadar sharing cerita lucu buat seru- seruan.

Karena saya termasuk orang yang banyak diem, suatu saat mereka mencoba "nanggap" saya untuk sesekali buka suara, bercerita tentang apa saja. Agak bingung, akhirnya saya memilih untuk berbagi pengalaman pas jadi panitia malam keakraban di kampus.

Saat itu saya kebagian tugas jadi sie transportasi, lingkup tugasnya termasuk membantu sie peralatan membawakan ube rampe keperluan acara. Karena waktu itu panitia nggak ada yang bawa mobil, saya dan seorang teman akhirnya nekat boncengan pake motor. Padahal peralatan yang harus dibawa lumayan banyak. Saking banyaknya, saya harus merelakan nyetir pake satu tangan karena tangan yang satu harus megangin barang.

Masalah muncul ketika akan berbelok, tangan kiri saya tidak bisa menyalakan tom…

Masalah Membawa Hikmah

Saya punya temen yang kalau lagi ada masalah pasti selalu ngajakin main. Entah itu ke pantai, ke hutan, atau pegunungan. Di sana nggak ngapa-ngapain, cuma berjalan-jalan menikmati pemandangan alam. Tapi satu "ritual" yang selalu dia lakukan dalam aktifitas jalan-jalannya itu adalah: berteriak.

Ya, dia berteriak di alam bebas, sekeras-kerasnya, dan berkali-kali. Awalnya saya kaget karena mengira dia kesurupan. Tapi setelah dia menjelaskan barulah saya paham. Menurut dia, berteriak memunculkan ketenangan batin. Serasa lebih plong dan lega. Perkara nanti setelah pulang dia akan dipusingkan lagi oleh masalahnya, itu urusan belakangan. Yang pasti berteriak menjadi obat yang mujarab untuk mengurangi beban pikiran.

Saya yakin tiap orang pasti punya "ritual" seperti teman saya tadi. Maksudnya, "ritual" untuk mengurangi beban pikiran. Beberapa mencoba mengalihkan masalahnya dengan berkumpul bersama teman, ada juga yang mengisinya dengan ikut acara keagamaan. Bahka…

Berani Karena Be(s)ar

Bagi orang yang terbiasa menempuh perjalanan jauh seperti saya, travelling memberi sebuah pelajaran besar bahwa idealisme "berani karena benar" tidak selamanya cocok diterapkan di jalanan.

Mereka yang pernah menempuh perjalanan jauh pake motor pasti tahu gimana dongkolnya jika jalur yang kita pakai diserobot oleh bus yang sedang salip-menyalip. Belum lagi jika bus itu meluncur ke arah kita sambil menghujani lampu tembak berkali-kali.

Saat itulah idealisme "berani karena benar" serasa menemukan ujiannya. Dalam hitungan detik kita dihadapkan pada dua pilihan keputusan. Pertama, bertahan dengan idealisme kita dengan konsekuensi logis tergilas bus sukur-sukur mati syahid. Kedua, membuang jauh-jauh idealisme serta angan-angan tentang mati syahid lalu ngumpat bajingan-gathel-asu sambil banting kemudi ke kiri.

Kalau saya, alhamdulillah selalu pilih yang kedua. Bukan karena saya nggak idealis atau takut mati. Tapi kebetulan saya lebih mencintai hidup daripada idealisme say…

Berkendara Adalah Sebuah Seni

Ibarat berkendara, kita harus paham kapan waktunya pake gas dan kapan waktunya pake rem, sebab keduanya adalah piranti vital sebagai penentu utama keselamatan. Jangan sampai karena ketidak mampuan menakar keduanya, justru membuat celaka diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya, berkendara bukanlah semata aktifitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain menggunakan bantuan alat. Berkendara adalah sebuah seni. Karena dia adalah seni, maka tidak ada anjuran numerik yang mengharuskan kita senantiasa terpaku pada angka-angka di speedometer.

Nge-rem ada seninya, nge-gas juga ada seninya. Tidak asal-asalan. Ada "feeling" yang harus dimainkan ketika kita menggunakan keduanya. Misalkan mau nyalip truk tronton, kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi jalan di depan: lurus atau tikungan, datar atau tanjakan, ada kendaraan atau tidak. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang masih jauh dan kita tetap mau nyalip, kita harus bisa mengukur: berapakah probabilitas keberhasil…

Trump dan Wajah Lugu Kita Terhadap Politik Amerika

Sudahlah, mari kita akui saja bahwa selama ini kita memang begitu lugu dalam memahami gairah politik di Amerika. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, jelas merupakan kejutan tersendiri bagi kita, bangsa Indonesia. Terlebih bagi sebuah bangsa yang begitu percaya negara super power itu memiliki pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik dunia, terpilihnya Trump jelas merupakan kenyataan sejarah yang -tidak hanya menohok, namun juga- membuat kita kecele lahir batin.

Masalahnya kita terlanjur percaya bahwa Amerika adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, minus-diskriminatif, anti-rasis, menghormati perbedaan, serta prinsip-prinsip demokrasi lainnya. Memiliki calon presiden yang bertolak belakang dari semangat itu hampir tidak mungkin dimiliki oleh negara tersebut. Tapi ternyata pandangan itu keliru. Munculnya Trump dalam bursa Capres saja sudah cukup "mengingkari" prinsip kenegaraan yang mereka anut. Ditambah lagi kemenangan yang Trump raih, seol…